Sekolah Muhammadiyah Jadi Teladan Pendidikan Inklusif di Indonesia
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa praktik toleransi di lingkungan sekolah Muhammadiyah bukan sekadar wacana, melainkan telah menjadi budaya nyata dalam keseharian pendidikan di berbagai daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri silaturahmi dan peresmian sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di PCM Krembangan, Surabaya, Jumat (1/5/2026).
Sekolah Muhammadiyah Terbuka untuk Semua Agama
Menurut Mu’ti, banyak sekolah Muhammadiyah yang menerima siswa dari beragam latar belakang agama. Ia menekankan bahwa peserta didik non-Muslim tidak pernah dipaksa untuk memeluk Islam maupun menjadi warga Muhammadiyah.
“Mereka ini Kristen, masuk ke Muhammadiyah lulus tetap Kristen. Jadi di Muhammadiyah tidak ada paksaan itu karena Qur’an menyebutkan tidak ada paksaan dalam agama,” jelas Mu’ti.
Hal ini menunjukkan bahwa sekolah Muhammadiyah mengedepankan nilai inklusif, memberikan kesempatan belajar yang sama tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Inklusif dari Segi Sosial dan Layanan Pendidikan
Selain inklusif dari sisi agama, sekolah Muhammadiyah juga terbuka secara sosial. Anak-anak dari keluarga berada maupun dari kalangan ekonomi sederhana memperoleh perlakuan setara dalam proses pembelajaran.
Layanan pendidikan di sekolah Muhammadiyah juga ramah terhadap anak-anak dengan perbedaan tumbuh kembang, baik fisik maupun intelektual.
Peran Sekolah Muhammadiyah di Daerah Terluar
Kehadiran sekolah Muhammadiyah di wilayah terluar dan daerah dengan keterbatasan akses pendidikan membuka ruang bagi anak-anak daerah untuk mengembangkan potensi diri. Banyak lulusan yang kemudian menempati posisi strategis dan menjadi pemimpin di daerahnya.
Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan Inklusif
Mu’ti menegaskan bahwa praktik pendidikan inklusif yang dijalankan sekolah Muhammadiyah sejalan dengan kebijakan pemerintah. Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengalokasikan anggaran sekitar Rp14 triliun untuk mendukung lebih dari 11.000 satuan pendidikan, termasuk sekolah yang terdampak bencana.
“Ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo yang diamanahkan ke saya untuk segera memperbaiki sekolah-sekolah, sarana prasarana sebagai bagian dari membangun pendidikan yang bermutu,” kata Mu’ti.
Sekolah Muhammadiyah sebagai Pilar Pendidikan Berkualitas
Dengan penguatan sarana, prasarana, dan akses pendidikan yang merata, sekolah Muhammadiyah terus berperan penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Komentar